Sebanyak 45 item atau buku ditemukan

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RSUD R. SYAMSUDIN S.H KOTA SUKABUMI

No. 865 Pelayanan kefarmasian mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan. Apabila pelayanan yang diberikan kurang optimal maka akan menyebabkan ketidakpuasan pasien. Pasien akan merasa puas apabila pelayanan yang diberikan sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan kenyataan dalam pemberian pelayanan kefarmasian yang dapat memuaskan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran data sosiodemografi pasien serta untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan pasien terkait pelayanan kefarmasian di RSUD R. Syamsudin S.H ditinjau dari 5 dimensi kepuasan yaitu Kehandalan (Reliability), Ketanggapan (Responsiveness), Jaminan (Assurance), Empati (Emphaty) dan Bukti Langsung (Tangible). Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Sumber informasi data primer dari penelitian ini berupa kuisioner yang dibagikan kepada 99 responden. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Data dianalisis secara deskriptif, dan hasil disajikan dalam bentuk tabel/grafik. Hasil penelitian menunjukan nilai rata- rata skor pada tiap dimensi yaitu : untuk dimensi Kehandalan (Reliability) mendapat persentase sebesar 75,05% dimensi Ketanggapan (Responsiveness) mendapat persentase sebesar 76,77%, dimensi Jaminan (Assurance) mendapat persentase sebesar 79,09%, dimensi Empati (Emphaty) mendapat persentase sebesar 79,24% dan dimensi Bukti Langsung (Tangible) mendapat persentase sebesar 73,23% yang artinya pasien sudah puas dengan pelayanan yang diberikan. Kata kunci : Tingkat Kepuasan, Pelayanan Kefarmasian, RSUD R. Syamsudin S.H

EVALUASI.KELENGKAPAN.ADMINISTRASI RESEP DI.APOTEK.KIMIA.FARMA JUANDA BOGOR PERIODE.MARET 2021

No.188 Evaluasi resep merupakan aspek yang penting dalam peresepan karena dapat membantu meminimalisir terjadinya medication error. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase kelengkapan resep dokter secara administratif yang telah dilayani di Apotek Kimia Farma Juanda pada periode bulan Maret 2021. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif. Metode pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode simple random sampling dengan menggunakan rumus slovin, didapatkan sebanyak 320 lembar resep. Hasil pengamatan menunjukan bahwa kelengkapan resep secara administrasi yaitu: data pasien 3,13% ( nama 98,75%, umur 65,94%, jenis kelamin 75% dan berat badan 3,44%), identitas dokter 22,81% ( nama dokter 96,56%, SIP 76,25%, alamat 96,56%, nomor telepon 85,63% dan paraf 32,19%) dan tanggal penulisan resep 82,5%. Hasil evaluasi kelengkapan resep ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien dan dapat mencegah terjadinya medication error.

GAMBARAN PENGKAJIAN RESEP PASIEN PSIKIATRI DI RUMAH SAKIT JIWA dr. H. MARZOEKI MAHDI BOGOR

no.151 Pengkajian resep adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam pelayanan resep untuk meminimalkan terjadinya medication error terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu pengkajian secara administrasi, farmasetik dan klinis. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui persentase kelengkapan pengkajian resep secara farmasetik pada resep pasien psikiatri rawat jalan dan rawat inap di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian bersifat deskriftif dan pengambilan datanya secara restrosfektif . Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu random sampling sebanyak 212 (dua ratus dua belas) sampel berupa arsip resep konfirmasi pasien psikiatri rawat jalan dan rawat inap periode Juli-Desember 2020. Hasil penelitian menunjukan terdapat ketidaklengkapan farmasetik yaitu pada bentuk sediaan obat 2%, nama obat 7%, jumlah obat 27%, aturan pakai obat 32% dan dosis obat 35%

KETEPATAN PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI PUSKESMAS MULYAHARJA

No.775 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab kematian pada anak berusia lima tahun setiap tahunnya. Evaluasi ketepatan pada penggunaan obat khusunya pasien yang terdiagnosa ISPA perlu mendapatkan perhatian khusus agar tidak terjadi ketidakrasionalan pada penggunaan obatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui obat-obat ISPA dan mengevaluasi ketepatan indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat frekuensi dan lama pemberian dengan metode penelitian secara deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif. Hasil obat-obatan ISPA yang digunakan yaitu Amoxicillin (14%), terapi penunjang yang digunakan yaitu Paracetamol (83%), Dexamethason (1%), dan Klorfeniramine maleat (2%). Ketepatan Indikasi (98%), tepat obat (98%), tepat dosis (100%), tepat frekuensi (100%), tepat lama pemberian (37%)

ANALISIS KEBUTUHAN TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN TERHADAP BEBAN KERJA DI DEPO RAWAT INAP INSTALASI FARMASI RSUD CIAWI

No.776 Seiring dengan adanya peningkatan jumlah resep yang dilayani di Depo Rawat Inap RSUD Ciawi, serta adanya peningkatan kasus Covid-19 yang semakin bertambah, mengakibatkan tenaga teknis kefarmasian mengalami kesulitan dalam memberikan pelayanan, karena jumlah pasien melonjak dalam waktu singkat. Beban kerja yang berlebih memicu kelelahan dan kurangnya konsentrasi pegawai dalam menjalankan pelayanan kefarmasian. Hal ini akan mengakibatkan penurunan mutu pelayanan di Depo Rawat Inap RSUD Ciawi serta meningkatnya angka medication errors. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan tenaga teknis kefarmasian di Depo Rawat Inap RSUD Ciawi Berdasarkan beban kerjanya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel seluruh aktifitas tenaga teknis kefarmasian. Teknik pengumpulan data diperoleh dari observasi work sampling. Data dianalisis menggunakan metode WISN (Workload Indicator Staffing Need). Hasil penelitian menunjukan aktifitas produktif langsung sebesar 65,05% dan kegiatan produktif tidak langsung sebesar 15,13% sehingga total Beban Kerja di Depo Rawat Inap RSUD Ciawi yaitu 80,18% dengan kategori tekanan beban kerja tinggi. Jumlah tenaga teknis kefarmasian saat ini 7 orang dengan perbandingan kenyataan dan kebutuhan (ratio) tenaga adalah 0,76 yang menunjukan jumlah kebutuhan tenaga teknis kefarmasian tidak sesuai dengan beban kerja dan membutuhkan 2 orang tenaga teknis kefarmasian agar pelayanan kefarmasian dapat berjalan dengan optimal